FAKTOR KETERLAMBATAN BERBICARA PADA ANAK; KAJIAN PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

PENDAHULUAN 

Pembelajaran bahasa anak dilakukan sejak dini. Sebagaimana mestinya, bahasa pada anak digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antar individu. Fungsi dari Bahasa ialah sebagai alat transfer perasaan dan pikiran terhadap lawan tutur. Namun, tidak semua anak memiliki kemampuan bahasa yang sama. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, individu satu dengan individu memiliki perbedaan dalam kemampuan berbahasa. Dalam mengemukakan perasaan dan pemikiran setiap individu memiliki cara yang berda-beda, bahkan sampai pada tidak mampu untuk memaparkan pikiran danperasaan melalui bahasa.

Pengungkapan perasaan merupakan bagian dari manusia yang amat penting. Pada anak, perasaan akan dikomunikasikan sebagai bentuk pemecahan masalah atas apa yang diinginkan. Bentuk-bentuk bahasa pada anak meliputi kode dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Bahasa verbal diungkakan dengan tanda tanda bunyi secara lisan. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal dituangkan dalam bentuk bahasa tubuh, contoh melalui gerak tubuh. Oleh karena itu bahasa pada anak sangat perlu diperhatikan, karena membutuhkan pemahaman yang lebih dalam.

Gangguan berbahasa pada anak merupakan permasalahan yang serius. Bahasa akan diperoleh oleh anak sejak dini. Perihal ini diperkuat dengan penelitian mengenai pemerolehan bahasa (Muradi, 2018) yang menyatakan bahwa anak memperoleh suatu bahasa dengan beberapa cara. Pertama, seorang anak akan memperoleh bahasa diperoleh dengan adanya prilaku verbal yang menyebabkan terjadinya stimulus hingga menimbulkan respon dalam bentuk bahasa. Kedua, seoranganak memperoleh bahasa berasal dari kemampuan anak itu sendiri. Ketiga, seorang anak memperoleh bahasa berdasarkan proses perkembangan kognitif, proses ini berawal dari input, proses, hingga output.

Bahasa merupakan alat untuk berinterasi sosial dengan sesama. Interaksi pada dilakukan oleh oleh anak kepada teman sebanyanya, hingga sampai pada interaksi anak dengan keluarganya termasuk orangtuanya. Keterampilan yang harus dimiliki anak sebagai keterampilan dasar untuk berinteraksi antarsesama yaitu keterampilan membaca, keterampilan menyimak, keterampilan menulis, dan keterampilan berbicara. Keempat keterampilan ini harus dikuasai oleh anak secara bertahap. Perihal ini sesuai dengan kutipan (Darmuki et al., 2018) yang menyatakan bahwa keterampilan berbahasa itu penting bagi anak dalam dunia Pendidikan dan dalam kehidupannya sehari-hari.

Pembelajaran Bahasa pada anak dilakukan sejak dini. Perihal ini sejalan dengan (Wardhana, 2013) yang menyatakan bahwa bahasa anak pertama kali diperoleh pada umur 0-3 tahun. Bahasa itu terbentuk dari mengeluarkan tangisan berupa refleksi dari bayi itu sendiri. Artinya, anak tersebut menangis bukan karena ingin mengangis, selanjutnya adalah bahasa yang dikeluarkan dalam bentuk tangisan akan tetapi kode bahasa ini memiliki tujuan. Pada fasse selanjutnya bayi dapat mengucapkan kata-kata yang berbentuk suku kata. Tahap selanjutnya, bayi mulai bisa meniru suara-suara yang ia dengarkan. Tahap terakhir adalah anak mulai berbicara sebenarnya.

Perkembangan bahasa pada anak memiliki bentuk perhatian lebih. Bahasa pada anak akan terus berkembang hingga dewasa. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, anak akan menggunakan bahasa, untuk bermain sampai pada untuk belajar. Apabila permasalahan seorang anak memiliki gangguan dalam berbahasa, maka ini akan merambat hingga menimbulkan permasalahan lain. Permasalahan yang akan dihadapi dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat hingga permasalahan berinterasi saat kegiatan belajar mengajar.

Asas kebutuhan dalam penggunaan berbahasa akan terus berlanjut dari anak hingga dewasa. Bentuk dari perkembangan bahasa menjadi faktor terpenting dalam tumbuh kembang anak, pada penggunaan bahasa anak berusaha untuk memahami, menerima dan menyimpan informasi, lalu diungkapkan dalam bahasa verbal maupun nonverbal atau secara reseptif maupun ekspresif (Fitriyani et al., 2018). Bahasa akan terus digunakan dalam kegiatan apapun. Sebagai mahluk sosial, anak harus dipersiapkan dengan bekal pengetahuan. Dalam menunjukkan kemampuan dalam berhubungan dengan masyarakat, seorang anak membutuhkan bahasa. Bentuk bentuk dari permasalahan bahasa akan disampaikan dalam artikel ini yang akan dijadikan sebagai bahan evaluasi pembelajaran bahasa di kelas.Sehingga tujuan penelitian ini untuk menjelaskan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti akan memaparkan temuan dan membahasnya secara deskriptif. Jenis penelitian yang peneliti gunakan ialah studi literatur. pertama peneliti akan mengumpulkan data, setelah itu peneliti akan mereduksi data temuan dari beberapa penelitian relevan, setelah itu peneliti akan menampilkan hasil temuan mengenai faktor keterlambatan anak dalam berbicara, terakhir peneliti akan melakukan validasi akhir.

Hasil dan Pembahasan

Keterlambatan berbicara merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan. Menurut (Dian Oktary et al., 2022) keterlambatan berbicara memiliki dampak yang akan sangat berpengaruh pada anak, seperti sulit mengungkapkan pesasaan terhadap lawan bicaranya. Padahal anak akan mengalami tumbuh kembang dan akan berinteraksi di sekolah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Oleh karena itu, dibutuhkan bentuk pengasuhan kepada anak melalui dokter dan juga ahli terapis yang diberikan oleh orang tua. Menurut (Bussa et al., 2018) pengasuhan oleh orang tua sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Pengasuhan akan membentuk karakter baik yang diterapkan pada interaksi sosial. Lebih lanjut menurut (Sujana et al., 2020) pemerolehan bahasa anak akan menjadi sebuah pembelajaran bagi anak. Artinya adalah, keterlambatan berbicara akan menimbulkan permasalahan anak dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Berdasarkan pemaparan pada hasil penelitian yang didapatkan dengan studi pustaka, ditemukan beberapa temuan. Pada hasil temuan tersebut ditemukan bahwa keterlambatan anak dalam berbicara disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam dan juga faktor eksternal yang berasal dari luar. Setiap faktor yang mempengaruhi terjadinya keterlambatan anak dalam berbicara memiliki beberapa bagian.

Faktor ini yang berpengaruh terhadap keterlambatan anak dalam berbicara. Faktor internal merupakan faktor dari dalam yang mempengaruhi keterlambatan siswa dalam berbicara. Penyebab terjadinya keterlambatan berbicara banyak disebabkan oleh cacat pada mulut akibat genetika dan pengaruh hormon testosterone. Menurut (Fitriyani et al., 2018) keterlambatan berbicara pada anak sangat sulit diketahui karena berhubungan dengan fungsi otak, syaraf mulut, lidah, kerongkongan, pernapasan, pita suara dan tonus otot. Ini merupakan faktor dari dalam yang mengakibatkan keterlambatan anak dalam berbicara.

Genetika merupakan salah satu faktor internal yang menghambat terjadinya keterlabatan berbicara pada anak. Genetika sendiri menurunkan bentuk yang berasal dari beberapa pendahulunya. Menurut (Rabhany & Setiawan, 2023) ankylogsia menyebabkan lidah tidak mampu menghasilkan sebuah fonem, ankylogsia terjadi karena genetika bawaan yang diturunkan oleh pendahulunya. Karena lidah tidak mampu digerakkan secara maksimal, sehingga fonem atau bunyi tidak dapat tersampaikan dengan baik. penyembuhan secara genetika dapat dilakukan dengan terapi dan penanganan oleh dokter secara medis. Selain itu anak tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara, menurut (Haliza et al., 2020) tunarungu dapat menyebabkan anak tidak dapat mendengar, sehingga produksi kata yang ada dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat tidak tersampaikan.

Faktor selanjutnya yang menyebabkan keterlambatan berbicara secara internal ialah karena adanya hormone testosterone. Hormon ini paling banyak dimiliki oleh laki-laki. Oleh karena itu, pada faktor ini, yang banyak mengalami gangguan berbicara ialah laki-lai. Perihal ini juga dijelaskan oleh (Suastika & Wulandari, 2022) pada pria, hormon testosteron akan menyebab gangguan berbicara. Lebih lanjut, (Yulianda, 2019) menyatakan bahwa level tertinggi dari hormon Testosteron pada masa prenatal menyebabkan lambatnya pertumbuhan neuron pada hemisfer pada bagian kiri. Perihal ini dapat menyebabkan anak lambat dalam menyimpan kosa kata. Selain faktor internal, keterlambatan anak peningkatan kemampuan berbahasa salah satunya berbicara.

Keterlambatan dalam berbicara juga dapat terjadi jika terkena afasia. Afasia sendiri merupakan gangguan pada neurologis, sehingga membuat sebagian otak yang berfungsi mengatur bahasa akan bermasalah. Perihal ini juga dijelakan dalam  penelitian (Aprilda et al., 2021) afasia motorik dapat menyebabkan gangguan dalam berbicara seperti keterlambatan. Penyandang penyakit ini tidak mampu memngungkapkan pikiran dan perasannya. Penyandang memahami diungkapkan, namun bahasa tidak yang dengan mengungkapkan kembali meggunakan bahasa verbal. Keterlambatan berbicara ini biasanya terjadi secara tiba tiba karena tumor dan struk.

Selanjutnya ialah faktor eksternal. Faktor eksternal pertama dalam berbicara juga disebabkan oleh faktor eksternal yang terdiri dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Pengaruh keterlambatan dalam berbicara anak disebabkan oleh tokoh dan lingkungan dimana tempat ia tingga. Psikologis anak menjadi sasaran pada faktor ini, sehingga menyebabkan anak enggan dan tidak bisa mengungkapkan sebuah perasaan. Menurut (Kuntarto, yang menyebababkan terjadinya keterlambatan anak dalam berbicara ialah lingkungan rumah atau keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam memberi pengajaran kepada anak, seperti mengajarkan berbicara. Dibutuhkan perhatian kepada anak guna tak terjadi permasalahan pada anak seperti keterlambatan dalam berbicara. Menurut (Aurelia et al., 2022) fungsi keluarga sangat dibutuhkan guna memberikan didikan kepada anak mengenai kebutuhan berbahasa seperti berbicara. Secara psikologis, orangtua akan memberikan didikan pertama pada anak, Oleh karena itu, peran dari orangtua haruslah dimaksimalkan. Perihal ini juga sejalan dengan (Anhusadar & Kadir, 2023) pengasuhan anak dengan baik oleh orangtua akan membantu tumbuh kembang anak serta memberikan dampak yang positif bagi anak. Perkembangan secara positif ini mencakup salah satunya ialah perkembangan dalam keterampilan berbahasa, seperti berbicara. Selain itu, jumlah anak juga mempengaruhi keterlambatan anak dalam berbicara.

Perihal ini juga dijelaskan dalam penelitian dari (Inayati & Rini, 2023) yang menyatakan jika urutan anak akan mempengaruhi keterlambatan anak dalam berbicara karena anak akan merasa sungkan, selain itu pendidikan orangtua juga mempengaruhi keterlambatan anak dalam berbicara. Dampak dari pendidikan orangtua ialah, ketidaktahuan orangtua tentang pentingnya pengasuhan dapat mendidik anak.

Faktor eksternal selanjutnya yang menyebabkan anak mengalami keterlambatan berbicara ialah faktor sekolah. Sekolah merupakan instansi pendidikan yang memberikan edukasi kepada siswa namun, masih saja ada permasalahan di sekolah yang menhyebabkan anak merasa tidak nyaman sehingga lebih memilih untuk diam yang dapat menyebabkan keterlambatan berbicara.

Perihal ini juga dijelaskan dalam penelitian dari (Saputra & Kuntarto, 2020) yang menyatakan bahwa peran guru dibutuhkan dalam membentuk sebuah pengetahuan baru pada anak saat berbicara. Penggunaan metode pembelajaran kreatif dan media pembelajaran diharapkan yang inovatif juga mampu untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara. Perihal ini juga dijelaskan oleh (Sujana et al., 2020) eksperimen yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara dengan gambar, hasilnya menunjukkan bahwa gambar dapat menjadi alat bantu dalam mendorong anak untuk berbicara. Perihal ini disebabkan oleh visualisasi yang tertuang dalam gambar. Pembelajaran dalam berbicara dapat dibantu dengan media gambar, karena mampu membuat anak tertarik dan memulai membuka diri untuk berani berbicara. Argument peneliti dijelaskan pula pada prosiding (Fadni, 2023) yang menyatakan bahwa kemampuan anak yang tidak mau berbicara meningkat saat menggunakan media Flash Card, dari yang awalnya hanya 34% yang mampu untuk mengungkapkan perasaan berubah menjadi 86,5% saat sudah diberikan tindakan menggunakan media bergambar. Perihal ini membuktikan bahwa guru diharapkan pkan memiliki kreativitas untuk membangkitkan kempuan siswa dalam berbicara.

Terakhir, faktor eksternal yang dapat menjadi penghambat anak dalam berbicara ialah lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat dapat mengajarkan nilai untuk melakukan sosialisasi dengan benar. Contoh pada saat menggunakan bahasa saat berbicara, diharapkan masyarakat mampu untuk memberikan pengaruh baik bagi anak, sehingga anak dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Argumen peneliti searah dengan (Furaida et al., 2023) dalam prosiding menyatakan bahwa selain lingkungan keluarga lingkungan masyarakat berpengaruh dalam pengajaran pada anak.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan jika faktor yang menyebabkan keterlambatan anak dalam berbicara terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor faktor ini memiliki keterkaitan, sehingga penyebab anak terlambat dalam berbicara dapat diatasi melalui pendekatan internal dan eksternal. Oleh sebab itu dibutuhkan pengawasan oleh orangtua sekolah, dan masyarakat yang dilakukan secara medis dan non medis yang dapat membantu anak memperolah bahasa untuk menanggulangi permasalahan keterlambatan berbicara pada anak. Diharapkan penelitian ini dijadikan bahan evaluasi bagi orangtua, sekolah dan masyarakat untuk lebih peka terhadap tumbuh kembang anak, salah satunya dalam berbahasa.

Daftar Pustaka

Anhusadar, L., & Kadir, A. (2023). Fathering dalam Pengasuhan Masyarakat Suku Bajo Anak Usia Dini pada Masyarakat Suku Bajo. Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(November https://doi.org/10.37985/murhum.v4i1.157 2022), 21–30.

Aprilda, N. M. M., Kuntarto, E., & Kusmana, A. (2021). Pengaruh afasia pada produksi ujaran dalam proses berbahasa. Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya), 3(1), 10–17. https://doi.org/10.26555/jg.v3i1.2180

Aurelia, T., Rahminawati, N., & Inten, D. N. (2022). Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Keterlambatan Bicara (Speech Delay) Anak Usia 5,9 Tahun. Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education, 2(2), 69–78. https://doi.org/10.29313/bcsecte.v2i2.3504

Bussa, B. D., Kiling-Bunga, B. N., Thoomaszen, F. W., & Kiling, I. Y. (2018). Persepsi ayah tentang pengasuhan anak usia dini. Jurnal Sains Psikologi, 7(2), 126–135. https://e journal.undikma.ac.id/index.php/jpu/index

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research Design Quantitative, Qualitative, and Mixed Methods Approaches. In H. Salmon, C. Neve, M. O’Heffernan, D. C. Felts, & A. Marks (Eds.), Journal of Chemical Information and Modeling (6th ed., Vol. 53, Issue 9). SAGE Publications, Inc.

Darmuki, A., Andayani, Nurkamto, J., & Saddhono, K. (2018). The Development and Evaluation of Speaking Learning Model by Cooperative Approach. International Journal of Instruction, https://doi.org/10.1097/ccm.0b013e3182963c 01 11(2), 116–128.

Dian Oktary, Arien, W., Syafitra, V., Permata, D. I. A., Hanifah, B., Azzahra, N., Rahmawati, A., & Indria, S. (2022). Keterampilan Bicara (Speed Delay) pada Anak. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4(11), 1707–1715.

Fadni, S. N. (2023). Upaya Meningkatka Keterampilan Berbicara Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Media Gambar(Flash Card) dan Video Pembelajaran. Prosiding Seminar Nasional PGPAUD UPI Kampus Purwakarta, 2(1), 226–235. 

Fitriyani, Sumantri, M. S., & Supena, A. (2018). Gambaran Perkembangan Berbahasa pada Anak dengan Keterlambatan Bicara (Speech Delay): Study Kasus pada Anak Usia 9 Tahun Kelas 3 SD di SDS Bangun Mandiri. Prosiding Seminar Dan Diskusi Nasional Pendidikan Dasar 2018, 59–64.

Furaida, I. D., Azizah, N., Leonida, F. D. E., Khuril’Aini, Yusmar, F., Mahardika, I. K., & Fadilah, R. E. (2023). Pengaruh Lingkungan Informal terhadap Hasil Belajar Siswa SMP. FKIP E-Proceeding, 25–28.

Haliza, N., Kuntarto, E., & Kusmana, A. (2020). Pemerolehan Bahasa Anak Berkebutuhan Khusus (Tunarungu) dalam Memahami Bahasa. Jermal, 1(2), 89 97. https://doi.org/10.31629/jermal.v1i2.2214

Inayati, A., & Rini, S. (2023). Analisis Berbicara dan Permasalahannya Pada Anak Usia 10 Tahun. Jurnal Sekolah, 7(2), 249–258.

Kuntarto, E. (2017). Memahami Konsepsi Psikolinguistik. In Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi.

Miles, B. M., & Huberman, M. A. (2014). An analytic approach for discovery. In CEUR Workshop Proceedings (Vol. 1304, pp. 89 92).

Mutasi Genetik Pada Kasus Gagap: Studi Pustaka. Medika Kartika Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 5(Volume https://doi.org/10.35990/mk.v5n4.p424-435 5 No 4), 424–435.

Muradi, A. (2018). Pemerolehan Bahasa Dalam Perspektif Psikolinguistik Dan Alquran. Jurnal Tarbiyah : Jurnal Tarbiyah : Jurnal Kependidikan, Ilmiah 7(2). https://doi.org/10.18592/tarbiyah.v7i2.2245

Rabhany, A. T., & Setiawan, H. (2023). Analisis Fisiologi Terhadap Penderita Gangguan Berbicara Cadel pada Usia Dewasa. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(7), 60–65. https://doi.org/https://doi.org/10.5281/zenodo .7803849

Saputra, A., & Kuntarto, E. (2020). Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak Usia Prasekolah. https://repository.unja.ac.id/11182/

Suastika, K. A. B., & Wulandari, R. D. (2022). Mutasi Genetik Pada Kasus Gagap: Studi Pustaka. Medika Kartika Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 5(Volume 5 No 4), 424–435. https://doi.org/10.35990/mk.v5n4.p424-435

Sujana, R., Kusmana, A., & Kuntarto, E. (2020). Peranan Gambar Sebagai Pajanan Bahasa dalam Mempercepat Pemerolehan Bahasa Anak. Jurnal Komposisi, 5(2), 77–86.

Wardhana, I. G. N. P. (2013). Perkembangan Bahasa pada Anak 0-3 Tahun dalam Keluarga. Jurnal Linguistik, 20(39), 95–101.

Yulianda, A. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Berbicara Berbicara Pada Anak Balita. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3(2), 12–16. https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/Bahastra/art icle/view/1137. 

Komentar